Senin, 19 Mei 2008

Papuans Merenung


Mengapa saya tidak dilahirkan di Amerika atau di Eropa dengan kulit putih? Atau di Jepang dengan mata sipit dan kulit kuning? Atau sebagai orang Melayu? Mengapa saya dilahirkan sebagai orang Papua Barat berkulit hitam, rambut keriting di atas bumi Papua yang kaya-raya itu. Apakah Tuhan keliru menempatkan saya disana? Saya tidak bisa membayangkan tentang misteri kehidupan ini, selalu membayangi diri ini sebagai seorang anak manusia Papua Barat yang sedang mencari eksitensi (keberadaan) di dunia ini, ketika bangsa kolonialisme-Imperialis dan antek-anteknya terus melakukan eksploitasi di bumi yang sangat saya cintai.
Pemukulan, pembunuhan, pembantaian dan kekerasan lainnya terhadap ibu, bapa, adik dan kakak dan terhadap paman. Mereka menginginkan kita tetap bodoh tidak sama sekali menyadari akan adanya ketidak adilan sosial, ekonomi, politik dan HAM yang dilakukannya. Itu semua, dengan mata telanjang telah saya saksikan. Sampai kapan akan terus terjadi. Disatu titik penantian, saya mengharapkan Bumi Papua yang aman bebas dari jiwa-jiwa kolonialisme, imperialisme itu. Haruskah saya duduk menangis dan meratapi sampai orang berkulit hitam rambut keriting di tanah Papua Barat lenyap ditelan bumi. Sebagaimana yang sedang terjadi saat ini. Apa yang harus saya lakukah??? Lawan..lawan dan lawan, karena kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa dan oleh sebab itu penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan prikemanusiaan dan peri keadilan.

1 komentar:

Papuans 19 Mei 2008 pukul 05.07  

jangan takut, maju terus.

Followers

About Me

Mengenai darimana saya datang, sampai saat ini sama sekali saya tidak tahu. Dunia asal saya sulit untuk ditebak. Barangkali saya hadir sebagai makluk asing yang terlempar begiti saja di atas dunia. Tetapi yang jelas saya terlahir karena mungkin kehendak bapak dan mama saya yang sangat mencintai saya. Kulit gelap dan rambut kering membedakan saya dengan teman-teman bangsa lain yang ada di bumi Nusantara. Pertamakali saya hadir ke dunia ini, saya terlahir di dekata Danau Tigi yang udarahnya dingin dan indah suasana pemandangannya, tepat di kota kecil yaitu Waghete-Pania-Papua Barat. Hanya saja di kota ini dan Papua pada umumnya kebebasan, kemerdekaan individu dan bangsaku semakin terabaikan oleh sifat-sifat manusiawi seperti keserakahan bangsa lain dan orang-orang dibangsaku sendiri telah tertular penyakit keserakahan dari bangsa lain dan membuat budaya dan orang--orang ditempatku punah. Hatiku sangat menjerit, namun siapa peduli...?

Text

  ©Template by Dicas Blogger.