Wajah Genoside di Papua
Wajah Genoside di Papua
Ingatan koloektif pengalaman buruk bersama Pemerintah Kolonial Indonesia di Papua tidak pernah terlupakan oleh orang Papua, bahwa dalam seluruh pengalaman buruk dan pahit oleh militer Indonesia, orang Papua diperlakukan bukan sebagai manusia, melainkan hanya sebagai objek, yaitu objek operasi militer. (Benny Giyai 2000., Hlm. 8--9.). Dalam operasi militer di tahun 1977-1978 adalah operasi militer paling buruk dan menyakitkan bagi orang Papua. Dalam setiap operasi militer masyarakat di bunuh dan dibantai. Di daerah selatan Jayapura yang berdekatan diterjunkan 10.000 orang tentara setelah membombardir dari udara oleh dua pesawat Bronco. Dalam penyerangan ini, diperkirakan 1.605 di wilayah itu tewas.( Robin Osborne, 2001, him. 134-135). Namun, negara tidak pernah mau bertanggungjawab atas sejumlah pelanggaran HAM di Papua. Begitupen dengan di Aceh, Tanjung Priok., pembunuhan terhadap Theys Hiyo Eluai diera Megawati Sukarno Putri. Bahkan Pengasutan Kematian Aktivis HAM Munir lamban dituntaskan akibat ketidak seriusan aparat terkait”BIN” dalam membuka masalah ini.
Ø Sebuah Contoh Perang di antara Masyarakat Bersuku di Negara Modern
1. Kasus Papua Barat- Pelanggaran Hak Asasi Manusia
Semenjak Indonesia masuk ke tanah Papua, hamper tiap hari terjadi pelanggaran HAM. Papua telah dijadikan laddang pencarian pencarian kekayaan alam seperti emas, tembaga, minyak ddan lain-lain. Selain itu di sana juga ada hasil hutan dan lahan kosong yang segera dipadati oleh orang luar. Akibatnya orang Papua sendiri disingkirkan dengan berbagai akal busuk.
Banyak tahanan politik diperlakukan secara tidak manusiawi oleh polisi dan militer khususnya selam masa penahanan. Pihak militer Indonesia pu harus bertanggung jawab atas eksekusi ekstrayudisial dan penghilangan nyawa aktivis OPM maupun para simpatisan Papua Barat dan Papua New Guinea.
2. Pembunuhan Massal, Sebuah Kata Pengantar
Dr. K. Larseberg melaporkan bahwa (-+) 300.000 penduduk telah hilang tanpa bekas. Sehingga diperkirakan bahwa dari jumlah penduduknya 700.000 pada tahun 1960 dan (-+) 1.000.000 orang ditahun 1980, 30% jumlah dilangkan secara tak manusiawi. Jumlah ini dapat diperoleh dari rincian sebagai berikut: yang selamat dari bom udara (-+) 80.000 orang, melarikan diri mengungsi (1984-1985) (-+) 13.000, dibunuh (-+) 13.000. Sehingga dapat ditotalkan (-+) 160.000. lalu ke mana yang lainnya pergi? Jika kita memerhatikan tingakat system kesehatan untuk penduduk desa, dapat disimpulkan bahwa oenurunan jumlah penduduk itu begitu cepat, secara langsung mupun tidak langsung, sebagai hasil kebijakan buatan manusia. Diawal tahuin untuk menguasai teritori, kebijakan pemerintah Indonesia untuk melenyapkan kaum elite Papua yang telah menganyam pendidikan. Hal ini disebabkan adanya ketakutan pada kaum ini yang akn menghalangi proses integrasi. Program KB nasional yang menghendaki jumlah keluarga kecil juga merupakan cara licik bagi ras Papua.
Dalam catatan ini akan dibeberkan berbagai pembunuhan terhadap orang Papua. Meskipun tidak lengkap sama sekali. Berbagai kasus diperoleh dari berbagai simber seperti tulisan yang dipublikasikan (buku, surat kabar, jurnal) laporan tertulis lisan dari para korban maupun para pengamat selama 30 tahun yang lalu.
Kami mengferifikasi informasi dari sumber-sumber ini. Catatan pembunuha yang ada meliputi pembunuhan dengan cara bom dan senjata api. Pembunuhan oleh pasukan militer, pembunuhan perorangan dan sejumlah sejumlah kematian dalam tahanan polisi serta penghilangan orang tanpa bisa dilacak.
Genosida yang lebih mengerikan tapi tidak secara langsung adalah penghabisan pelayanan kesehatan, juga penyakit yang dapat dicegah tapi pasiennya dibiarkan saja hingga meninggal, translokal yangh dipaksakan dari daerah pedalaman ke pesisir pantai yang lebih rawan terhadap ancaman penyakit malaria seperti: orang Amugme disekitar area PT. Freeport. Cara lain adalah merampas tanah yang subur.
3. Pemboman Udara
Yang diarahkan ke daerah/distrik yang paddat penduduknya seperti Lembah Baliem, mengakibatkan kematian, Paniai, distrik Wissel, pegunungan Arfak dan distrik danau Ayamaru. Pengeboman ini mengakibatkan kematian, luka dan derita yang berkepanjangan. Akibatnya adalah musnahnya persediaan bahan makanan dan perkebunan warga sehingga menikbulkan kelaparan, malnutrisi, dan juga infeksi berbagai penyakit. Dampak lain juga adalah kematian para orang tua yang menjadi tumpuan anak-anak dalam keluarga.
Jumlah cara Indonesia menciptakan percekcokan/penderitaan. Dilai pihak orang Papua mengecam tentara Indonesia yang menghancurkan hidup mereka, memperkosa para wanita dan anak perempuan.
3.1. April 1969, pemboman di distrik danau Wissel daerah Paniai dan Enarotali daerah yang di bombardier ini menjadiawal “purapura Act”. Dalam peristiwa pemboman ini diperkirakan 14.000 orang papua mengungsi ke hutan/semak-semak.
3.2. Revold 2 Paniai; Ini merupak hasil ddari cara licik pihak Indonesia mempengaruhi orang dalam memilih wakil “purapura Act”. Hasilnya bahwa orang tel;ah memilih wakil yang tak “beres”(dan ukuran orang Indonesia). Dengan hal ini, mengakibatkan retaliasi/pembalasan dendam oleh militer/TNI dengan mengahncurkan desa tersebut. Korban yang telah terbunuh tak diketahi tapi yang pasti ada orang yang meninggal dalam peristiwa itu.
3.3. Pegunungan Arfak : 1966-1967
3.4. Daerah Ayamaru dan Teminabuan :17 Januari -29 Maret 1967
3.5. Area pertambangan Freeport/Agimuga:1977
3.6. Lembah Baliem; 1977-1978
3.7. Desa Nagasawa/Dimo kecil
Diawal bulan Juli 1984, daerah ini dibendung secara membabi buta dari arah laut dan udara. Tak ada masyarakat satupun yang lolls karena rute pelarian mereka telah dihadang oleh kapal meriam ganas. Ada 200 orang laki-laki mati dan anak-anak serta para wanita digorok seperti binatang. Dua (2) orang perempuan yang menyaksikan tragedy ini dari jarak jauh hanya diam ketakutan, kemudian melarika diri ke Vanimo-Papua New Guinea untuk menceriterakan kisah tragis ini.
3.8. Desa Taronta,. Takar dan Masi-Masi
Warga di semua pantai timur Sarmi juga dikepung dari arah laut. Kematian tragis akibat bom itu tidak diketahui, namun wilayah Taronta ada takar yang dibom itu lumayan luas. Selama periode Belanda tahun 1959, Taronta berpenduduk 1.500 orang sedangkan takar berpenduduk 2.000 orang. Mreka yang selamat melarikan diri ke Jayapura dan tidak ada alasan yang jelas dalam pemboman keji itu.
4. Pembunuhan Massal
4.1. Henk de Yeri melaporkan bahwa ada 55 laki-laki dari 2 desa Biak Utara diangkat ke area kosong, disuruh menggali lubang kuburan sendiri. Nama desa dari korban tidak disebutkan laporan ini diperoleh dari Henk de Yeri yang mengunjungi daerah tersebut dan mempublikasikan harian Belanda De Telegraf pada tanggal 11,12,19 Oktober 1974.
4.2. Biak Utara: Yeri 1970
Pada waktu itu terjadi pembunuhan terhadap- para wanita dan anak-anak. Salah seorang perempuan bernama Maria Bonasapia, dietembak mati bersama jenin yang dikandungnya. Pembunuhan ini dilakukan oleh ABRI Devisi Udayana yang tidak moralitas.
4.3. Distrik Lereh: Barat Daya Airport Internasional Sentani
Pembunuhan missal 500 warga dan jenasahnya dibuarkan membusuk dihutan belantara. Ada tanggal dan nama para korban.
4.4. Biak Utara, Bus Dori, Kris Dori, dan desa Ampombukor-1974.
Ada 45 korban pembunuhan antara lain Eduard Mambenar, 20 tahun dan kawan-kawannya (Rumbia, 2003 130-131)
4.5. Desa Arwam dan Rumbin (1975)
Korban pembunuhan berjumlah 41 orang….nama dan umur ada dalam buku (hal 131)
4.6. Distrik Dosai, Jayapura: 4 april 1978
Ada 6 orang korban yang dibunuh secara kejam dan sajis.
4.7. Distri Tiom, Jayawijaya-Mei 1978
125 orang dibunuh dengan senjata api karena bekerja sama dengan OPM. Nama-nama korban tidak disebutkan. 5 orang pemimpin yang rela menyelamatkan warga disengat dengan batang besi panas. Mereka adalah Labang Wenda, Kaleb Wenda, We Wanibo, Wenengen Wanibo, Piranggen Wakerkwa. Operasi biadap ini dilakukan oleh ABRI unit 792-753 dan kodim Wamena.
4.8. Biak Utara
12 orang ditemukan tewas dan hanya tulang belulang serta bau busuk tubuh para korban. Mereka ditemukan oleh pemburu setekah mencium bau busuk ini. mereka telah diberondong dengan senjata api oleh patroli Indonesia.
4.9. Operasi Tumpas (Ayamaru, Teminabuan, Inanuatan)
Operasi dilakukan 1967 ini menyebabkan (-+) 1500 orang mati dan mengalami berbagai penderitaan.
4.10. Daerah Jayapura
Pada tanggal 16 Juni 1978 ditemikan 14 mayat korban pembunuhan dengan penembakan.
4.11. Desa Kebuma, distrik Kelila Jayapura
Pada tanggal 28 Juni 1978 ditemukan 6 wanita yang telah diperkosa secara kejam dan ditembak ditempat. Mereka dituduh bersekongkol dengan OPM pembunuhan ini dilakuka oleh ABRI dan kesatuan Kodim Wamena dibawah kepemimpinan Kolonel Albert Dieg
4.12. Merauke
Tanggal 20 Juli 1978, 122 warga (116 laki-laki dan 6 wanita) mengungsi ke hutan karena ditakuti dan para Abri menangkap semua, dimasukan kedalam kantong/karung besar, diikat lalu dibuang kelaut seperti tikus-tikus. Para kenalan tak berani menyebutkan nama karena diancam oleh ABRI.
4.13. Ampas Waris, Daerah Jayapura,1981
Operasi “Sapu Bersih” dilakukan pada bulan 6-8 1981, desa Ampas Waris dan Batle-Arso. Warga diberodong dan ditembak mati dan dibiarkan begitu saja hingga mayatnya busuk.
4.14. Daerah Paniai, 1981
Sebanyak 68 warga dibunuh dan 58 warga lainnya hilang tanpa jejak.
4.15. Kudai dan Kedapai Baliem
Beberapa suka yang kehilangan anggotanya karena dibunuh oleh ABRI. Sebanyak 27 warga meninggal-membusuk diantara semak belukar. 30 warga lainnya tidak ditemukan.
4.16. Pegunungan Tengah (Sebtember-Desember)1981
Diperkirakan 13 warga dibunuh didaerah pegunungan tengah dan tujuan utamanya ialah pengungsian warga asli ke pegunungan sehingga lahan kosong dapat ditempati oleh para transmigaran dari Indonesia. Slogan kecil yang digunakan pada waktu itu ialah “Biar tikus lairi ke hutan, asal ayam piara dikandang”
4.17. Distrik Danau Wissel Paniai: Pertengahan 1985
2.500 warga Papua dibunuh di daerah ini-dengan perincian sebagai berikut: desa Juandoga dan Kugapa 115 orang, yang dibunuh tanggal 20 Juni 1985. Desa Epomani 10 orang pada tanggal 2 Juli 1985. Militer menghancurkan juga desa tersebut, ladang, persediaan makanan dan lain-lain. Desa Ikopo 15 orang dan menghancurkan semua yang ada disana pada tanggal 6 Juli 1985. Distrik Moanemani 517 orang, 12 desa dibumihanguskan.
4.18. Daerah Jayapura
Desa Sre-Sre 500 orang mati, desa Lere 346 orang, di Ganjem, Abepura, Waris, Sentani ada 155 orang mati dibunuh.
4.19. Catatan menurut Tabloid (No.46 November 1981)
Diperkirakan bahwa dari tahun 1963-1969, 30.000 warga Papua telah dibunuh
4.20. Distrik Danau Wissel/Paniai (1986-1987)
Dalam kurun waktu ini, di daerah ini terdapat 34 orang yang ditembak mati. (nama-nama mereka ada dalam buku, hal. 133)
4.21. Pertambangan Freeport (Juni-Juli 1994-1995)
Pada bula Juni 1994 terjadi perselihan tanah antara para tuan tanah, ABRI dan Personel keamanan pertambangan tersebut. Menurut ACFOA (Badan Bantuan Autralia) bahwa yang menjadi penyebab adalah keluhan warga atas paksaan tempat tinggal dan intimidasi oleh aparat keamanan, pemrintah yang memihak pada pertambangan. Mereka menuduh bahwa hal itu dihalangi oleh para OPM dengan pemimpin Kelik Kwalik. Dilaporkan bahwa 16 orang dibunuh dan 6 lainnya hilang tanpa bekas. ABRI mempersalahkan OPM “menanamkan rasa anti Indonesia pada warga Papua dan ABRI menjaga jangan sampai ini terjadi”. Pada bulan November 5 warga dari suku Kelik Kwalik disuruh dan dibunuh , mayatnya tak pernah ditemukan.
4.22. Kematian dalam Tahanan
Setelah satu korban adalah Soleman Nukobay adari Sentani, yang meninggal dalam tahanan tapi tak dilaporkan kepada pihak keluarganya.
4.23. Paniai
1. David Pekey-Wakil Jubir DPRD Kab. Paniai
2. Senin Mote- Sersan Pilosi Senior yang memimpin distrik Moanemani bekas batalyon Papaua selama Perang Dunia II.
4.24. 1981-1984 (Kematian akibat penyiksaan)
Jumlah tahanan yang meninggal sebanyak 68 orang diantaranya adalah Isak Bunai yang disiksa dengan tusukan jarum hingga mati, Robby Yogi digantung dengan kepala di bawah dan diiris badannya dengan silet tajam hingga mati, Julius Bunai, Yance Yogi, Yonas Yogi dibunuh dengan cara menusuk batang besi panas lewat lubang pantat, telinga dan hidung.
4.25. Penyiksaan hingga mati
Para korban antara lain Thobias Degei, Yunus Dgei, Yohanes Nawipa, Yan Gobai, yang disiksa dengan silet di paniai distrik Danau Wissel 1984-1985). Mereka menderita hingga ajal menghantar pergi. 20 korban lainnya tak pernah ditemukan.
4.26. Kematian Aser Demokotay di genjem Jayapura
Dia meninggal dalam tahanan akibat siksaan kejam. Anaknya juga meninggal di Jakarta pada tanggal 22 September 1983 akibat diracun. Masih ada korban lain yang termasuk dalam bagian ini.
4.27. Kematian ayng tidak masuk wajar
Ada banyak korban yang meninggal tidak wajar. Nama dan keterangan lainnya ada dalam buku ini(baca: Rumbiak, 2003. 135-136)
4.28. Eksekusi Tanah dan Pembunuhan Berencana:
Terdapat 54 kasus pembunuhan dengan modus pembunuhan berencana oleh piha-pihak tertentu dan keterangannya ada dalam buku (Rumbiak Arwam, 2003 136-140)
Indonesia sudah merdeka? Tunjukan kemandirian bangsa dalam melindungi rakyat. Begitu juga tunjukan ketidaksetujuan Indonesia terhadap Bangsa Papua. Daripada ketidaksetujuan itu hanya ada dalam irama pembantaian dan pemusnahan RAS (Genosida). Sekarang pembunuhan itu semakin diperhalus melalu Biomiliterisme. Kematian dan menurunnya produktifitas karena kekerasan akibatnya penduduk asli Papua tidak bertambah banyak, saat ini berjumblahnya 1,2 juta jiwa, penduduk pendatang 1,3 juta jiwa ini yang terdata. Tidak termasuk penduduk luar yang setiap minggu datang melalui kapal putih dan belum terdata. Sedangkan jumlah militer di tanah Papua menurut Pangdam XVII Trikora yang terdata sekitar 70.000 jiwa (Wartawan Suara Perempuan). Jelas sudah orang Papua menuju kepunahan! Bahwa sekarang di era otonomi ini, pembunuhan terhadap orang Papua lebih diperhalus melalui Bio-militerisme. Aksi Bio-militerisme dilakukan melalui makanan, minuman, rokok yang di jual di warung dan kios-kios di Papua. Membuat masyarakat Papua sangat resah. Sampai sekarang ini berdasarkan laporan dari Militer Kavileri di Papua, ada 42 jenis minuman mengandung zat beracun yang diperkirakan di Papua untuk melakukan genosida di Papua.

Posting Komentar